Tiket Surga Bagi Istri

Tiket Surga Bagi Istri

Di kajian rutin wali murid bulan ini, kembali diingatkan bahwa “untuk dapetin tiket surga bagi istri itu mudah. Cukup melaksanakan ibadah wajib plus suami ridho”. Seketika muncul lintasan pikiran. Betul, sederhana sekali.

Tapi lalu teringat juga bahwa yang namanya “berhadiah surga” itu maka otomatis jalannya tidak disukai hawa nafsu. Menggarisbawahi “tidak disukai nafsu” itu berarti perjuangannya adalah melawan nafsu untuk menapaki jalan tersebut 😀

Kadang tak mudah untuk membuat suami selalu ridho. Ada kalanya menjadi sebuah ujian tersendiri bagi para istri. Jika bukan karena perintah dalam agama dan tuntunan dari Rabb semesta alam, niscaya hal ini terasa menjadi semakin berat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Mencari dan mendapatkan keridhaan suami ada kalanya mudah, ada kalanya sulit. Demi keridhaan suami, ada saat dimana ego istri mesti disesuaikan sedemikian rupa. Itulah perjuangannya. Nampak sepele namun tidak mudah menundukkan hawa nafsu untuk tidak menuruti suami.

Saat selesai sharing terkait perbedaan komunikasi lelaki dan perempuan, tidak sedikit perempuan yang curhat seolah berat.. “Teh, aku disuruh resign sama suamiku” atau “Teh, aku ga diizinin jualan sama suamiku” dan semacamnya. Bagi beberapa perempuan mungkin mudah saja hal itu dilaksanakan, tapi ada juga yang memang membutuhkan proses yang cukup panjang.

Saat Keinginan Tak Sejalan Dengan Suami

Dalam perjalanan meraih keridhaan suami, kadang ada permintaan beliau yang tak sejalan dengan keinginan kita. Misal, kita menikmati bekerja di wilayah publik (atau orang menyebutnya working mom). Suami, anak dan rumah sih sebetulnya terawat dengan baik oleh dirinya. Hanya saja suami meminta agar istri berhenti bekerja karena toh dia pun masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga (menurut dirinya, meski kadang menurut sang istri malah sebaliknya). Disinilah ujiannya. Keinginan istri dan suami (nampak) tak sejalan.

Hal yang perlu dibangun adalah komunikasi karena bagaimanapun, sesuatu yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan selalu membawa keburukan meskipun niat awalnya baik. Maka kemampuan komunikasi mutlak diperlukan. Suami harus bersedia mendengar, istri harus bersedia sabar ga langsung ngomel 😀

Berbicaralah dari hati ke hati. Suami ceritakan apa yang menjadi keinginannya beserta alasan yang menjadi pijakannya, sementara istri pun mengutarakan uneg-uneg dengan cara yang lebih dapat dipahami suami. Ceritakan keberatan yang dirasakan, keinginan yang diharapkan terpenuhi, dan sebagainya.

Berbicaralah antara dua orang yang saling mencintai dan senantiasa berusaha saling menjaga. Dalam kondisi baik, tenang, nyaman dan tak tersulut emosi.

Yuk, Luruskan Mindset Kita Sebagai Istri

Beberapa diantara kita mungkin beranggapan, “ah, menikah itu membunuh kreatifitas”, “kenapa sih istri harus nurut sama suami? Kan jadi terkungkung begini.”

Kalimat seperti itu pernah saya dengar. Bahkan ada yang ekstrim, “Kalau perempuan ga bisa nyari uang, nanti ga bisa punya ‘bargaining position’. Giliran suami bertindak ga bener, ga bisa apa-apa”

Tak salah memang, tapi kurang tepat. Semestinya kita berbaik sangka bahwa suami kita adalah orang baik yang akan senantiasa menjaga kehormatan diri, istri dan keluarganya.

Perempuan harus berdaya, saya sepakat. Tapi saya menemukan kondisi saat ini dimana seolah perempuan berdaya itu bertolak belakang dengan mencari keridhaan suami.

Padahal dengan komunikasi yang baiklah kedua hal ini dapat berjalan beriringan. Tidak semua suami melarang istrinya beraktifitas baik bekerja atau bersosialisasi. Bahkan ada suami yang dengan senang hati mendukung istrinya berkegiatan di luar rumah.

Perlu dipahami bahwa beliau adalah sosok yang berada di luar diri kita, seringkali penilaian suami lebih objektif. Bisa saja setelah dibicarakan ternyata suami ingin kita di rumah karena ia khawatir dengan keselamatan kita. Atau karena suami ingin istrinya ga terlalu capek, dsb.

“Teh Esa, tapi kan ga semua lelaki baik. Gimana kalau ternyata dia ga bisa memenuhi kebutuhan kita?”

Kita sedang berbicara tentang suami masing-masing, itu artinya, dibandingkan saya, teman-teman lebih paham sifat suaminya. Jika istrinya saja ragu pada kemampuan suami, bagaimana energi positif bisa dimiliki suami secara penuh?

Semoga kalimat seperti itu ga keluar ya. Sebab saya jadi bingung “kalau ga semua lelaki baik, bagaimana dengan suami teteh? Kalau ternyata dia ga baik menurut istrinya sendiri, lalu kenapa bersedia menikah dengannya?” 😀

Semoga suami teteh termasuk yang baik ya. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, coba deh catatkan kebaikan-kebaikan suami untuk membantu kita menilai beliau dengan lebih objektif.

Ketika Istri Ragu Terhadap Suami

Dari beberapa kasus yang pernah masuk ke list curhatan saya, saat istri ragu pada kemampuan suami menafkahi maka seketika seperti ada energi yang merusak kemampuan sang suami. Sementara saat istri meyakini sepenuhnya bahwa suaminya adalah seorang yang bertanggung jawab, energi suami mencari nafkah (dan produktif) menjadi jauh lebih besar.

Ada sih yang curhat suaminya memaksa istri bekerja sementara dia sendiri ga bekerja dan si istri inginnya di rumah saja urus anak-anak yang kala itu sedang bermasalah. Kembali lagi, komunikasi perlu dibangun. Ternyata ada semacam trauma atau ketakutan dari sang suami bahwa dirinya “hanya” bisa bekerja dalam kondisi tertentu.

Kalau gitu, suami zhalim dong Teh? Masa kita masih harus tetep patuh sama suami kayak gitu?

Jawabannya: iya, tetaplah patuh. Tetaplah cari keridhaannya. Ketika ia tenang karena sang istri fokus pada keridhaan suami, ketika suami semakin merasakan bahwa sang istri begitu sabar dan bersedia menemani dalam kondisi apapun, doakan. Semoga sang suami semakin memiliki energi besar untuk kembali bangkit. Dan berdoalah semoga dengan upaya sang istri mencari keridhaan suaminya, meski ia lelah lahir batin, surga menanti di pintu mana saja.

Lelaki yang Tidak Baik, Tentu Saja Ada

Tulisan ini tidak ingin juga menafikan bahwa ada lelaki yang memang kurang baik akhlak maupun pemahamannya dalam agama. Ia belum paham sepenuhnya mengenai hak dan kewajiban suami-istri. Tapi mari kita soroti diri kita saja dulu sebagai istri. Sudahkah kita betul-betul menjalankan segala hal dengan patokan: “yang penting Allah dan suami ridho”?

Jika permintaan-permintaan suami dilaksanakan secara tenang dan ridho, suatu saat impian dan harapan kita akan tercapai. Dengan cara yang terkadang mengejutkan!

Sebab menjadi istri dan ibu bukan berarti kita berhenti bermimpi. Hanya saja kita sedang mengupayakan keberhasilan suami terlebih dahulu, baru diri dan anak-anak. Dan akan lebih membahagiakan jika suami maupun istri sama-sama saling membahu mewujudkan mimpi masing-masing guna mencapai mimpi yang lebih besar: impian keluarga berkumpul lagi di surga.

Mohonkanlah kemudahan dan kekuatan pada Allah dalam menjalaninya. Tak lupa mohon ampun jika pemahaman kita belum seideal yang semestinya dan mintalah pemahaman yang benar-utuh serta kekuatan menjalankan pemahaman itu.

Doakan pula para suami yang masih belum berperan sepenuhnya sebagai suami yang “ideal dalam versi agama”. Semoga ia terus bergerak menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sehingga terbentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah yang dapat dirasakan baik oleh suami, istri, anak maupun keluarga dan sekitar.

Mari terus belajar mencari keridhaan Allah dan suami. Semoga Allah kuatkan langkah perjalanan kita dalam menggapai keridhaan itu. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: