Tips Mendidik Anak-anak Dengan Baik, Tahapan Yang Seringkali Terlewat

Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjuangan tersendiri. Selama ini saya mencari cara efektif menjadi orang tua yang lebih baik. Puzzle nya di kepala udah kebayang, tapi menuliskannya kok susah. Dan dalam diskusi di grup Keluarga MAJu Limes STIFIn kemarin akhirnya terbantu. Alhamdulillah.

Melalui tulisan kang Muvti dan komentar mba Wulan tentang kesimpulan 3 tahapan penting untuk dapat mendidik anak-anak dengan baik, jadi bahan tulisan ini.

Berikut adalah status Kang Muvti:

Kesalahan banyak orangtua adalah, melompat untuk belajar Parenting.

Padahal ada level dasarnya sebelum kita, sebagai orangtua menguasai ilmu2 Parenting.

Apa itu?

Saya senang dengan menyebutnya, Partnership Skill. Atau kemampuan membangun rekanan dengan pasangan hidup kita.

Mengapa ini dulu yg harus kita pelajari?

Ya secara logika gini. Kita ingin mendidik anak kita menjadi anak yg hebat dalam potensinya. Anak kita menjadi anak yg sholeh atau sholehah. Anak kita menjadi orang yg berguna bagi nusa dan bangsa (sesuai UUD 45).

Lalu, sama pasangan belum klop. Si suami maunya kesana, sang istri maunya kesani.

Si suami maunya belok kanan, si Istri belok kiri.

Sang suami pengen ke Utara, si Istri kekeuh ke Selatan.

Ujungnya, mendidik anak cuma isapan jempol belaka. Karena tidak ada keselarasan dengan pasangan.

So, perbaiki dulu partnership dgn pasangan, setelah itu baru mendidik anak. Bukan kebolak-balik.

Semoga Saya dan istri bisa sharing ttg ini.

Ternyata…

Dan yang berat itu bukan Rindu. Tapi belajar untuk komitmen dan konsisten. Ceunah…

#Sharepagi

#Silahkandishare

#Gemalaka

Adapun dari hasil kajian bersama ust. Bendri, teman kami mba Wulan menyimpulkan bahwa untuk dapat mendidik anak-anak dengan baik ada 3 tahapan penting:

  1. Perbaikan kualitas diri
  2. Perbaikan hubungan dengan pasangan
  3. Perbaikan komunikasi/cara mendidik anak.

Belakangan materi mengenali potensi dan bakat anak sejak dini begitu semarak. Banyak orang tua terutama ibu muda begitu antusias pada bahasan potensi minat bakat anak. Bagi saya pribadi, mengetahui potensi dan bakat anak sejak dini bukan untuk diikutsertakan dalam les disana sini yang sesuai bakatnya, akan tetapi menjadi patokan “tipikal seperti apakah anak ini dan kelak bidang apa saja yang insyaAllah dia akan dapat memberikan kontribusi peran yang maksimal pada agama”.

Mengetahui potensi dan bakat anak sejak dini bisa jadi merupakan upaya para orang tua jaman now untuk memperoleh generasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Apalagi profesi di masa mendatang bisa jadi belum ada di masa kita saat ini sehingga yang perlu diketahui adalah “jenis bunga apakah anak yang diamanahkan dan bagaimana menyirami serta mengurusnya?

Dengan mengetahui dasarnya, kita dapat menyiapkan lingkungan dan treatment yang lebih tepat. Lingkungan dan treatment yang tepat ini selain membantu “bunga” kita tumbuh baik juga membuat kita pemiliknya tidak tebak-tebakan dan enjoy mengurusnya.

Seperti halnya percaya pada kurir yang kita harapkan menjaga barang titipan dengan baik dan mengirimkannya pada penerima, Allah pun pasti menitipkan anak-anak pada kita karena Ia percaya kita dapat menjaga amanahNya dengan baik untuk sampai pada peran penciptaan yang sesungguhnya.

Tapi ada yang terlewat.. Kita sebagai “kurir” pun perlu tahu ekspedisi seperti apakah kita. Tanah seperti apakah kita?

Jika merujuk pada 3 tahapan penting untuk dapat mendidik anak dengan baik, maka hal yang tak boleh dilewatkan adalah perbaiki kualitas diri yang merupakan tahapan dasar untuk kita berhadapan dengan orang lain termasuk pasangan dan anak.

  • Adakah diantara teman-teman yang ketika marah ke pasangan, yang kena imbas (tanpa disadari) adalah anak?
  • Adakah ketika kita kecewa pada hal lain, eh teori parenting yang udah dipelajari berantakan karena bad mood?
  • Adakah diantara teman-teman yang tak selaras antara keinginan dalam parenting dengan keinginan pasangan? Akhirnya malah lebih banyak cekcoknya (atau lebih banyak saling memendam). Alhasil anak bingung harus gimana, harus nurut sama siapa. Bahkan kita sendiri bingung bagaimana mendidik anak sesuai “target” jika kondisinya seperti itu.

Bisa jadi karena kita sendiri belum tahu apa kelebihan dan kekurangan kita, belum selesai dengan masa lalu dan belum meletakkan situasi sesuai tempatnya. Maka, bukankah teramat penting mengenali potensi bakat diri dan pasangan.

Saat masing-masing sudah mengenali dan saling menghormati keadaan pasangannya, maka insyaAllah akan lebih mudah menyamakan langkah. Agar semakin mantap mengenali medan yang akan dilalui.

Tentu di atas itu semua yang perlu diperbaiki adalah bubungan dengan Allah. Selalu berdoa agar ditunjukkan potensi diri, pasangan, anak dan keluarga. Mohon ditunjukkan agar dapat menemukan bidang dimana setiap kita bisa berkontribusi untuk umat. Perbaiki terus hubungan kita dengan Allah. Ketika energi positif kita meningkat, jangan heran jika energi yang didapat anak pun meningkat sehingga mereka semakin melesat. InsyaAllah.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *