Tips Mengajari Anak Memasak

Memiliki tiga anak ternyata membuat saya makin bahagia ketika tahu si sulung sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan si tengah udah mulai bisa menyiapkan kebutuhannya tanpa bantuan Ummi dan Aa. Setidaknya dengan begitu, ummi ga harus selalu mengurusi 3 anak yang mana bisa saja membuat saya spaneng. Ya, meskipun tetap saja ada momen dimana mereka bikin spaneng. Wajar lah ya. Namanya juga manusia, life is never flat.

Si sulung Danisy saat ini usianya 7 tahun sementara Azam berusia 4 tahun. Soal kemandirian kami tekankan di usia 4 tahun. Prosesnya memang tidak selalu mudah. Butuh komitmen, ketegasan dan kesabaran semua pihak terutama orang-orang dewasa sebab biasanya yang susah sabar menghadapi proses anak belajar mandiri itu justru orang dewasa di sekitar anak-anak. Heuheu. Curcol.

Makanan Ibu Paling Enak

Masakan ibu selalu jadi makanan paling enak di dunia. Sepakat? Ada yang sepakat tapi mungkin ada juga yang kurang setuju. Tak masalah. Kita ga harus sama kok 😀

Wajar saja sebetulnya jika seorang anak selalu menganggap masakan ibunya adalah yang paling pas di lidah. Bagaimana tidak, sejak pertama kali mengenal rasa selain ASI, anak kemungkinan besar menikmati masakan ibunya di fase MPASI dan fase berikutnya. Sehingga anak terbiasa bertahun-tahun mengkonsumsi masakan ibu.

Meskipun semakin beranjak dewasa tambah banyak varian rasa yang diicip, tetap saja ada masa kangen masakan ibu. Minimal kangen momen saat dimasakin makanan oleh ibu 😀

Tapi okeh banget lho kalau ngajarin anak lelaki kita memasak. Biar selain kangen masakan ummi, semoga nanti ada juga yang “kangen masakan ayah” karena anak kita saat punya anak nanti bisa masakin anaknya makanan.

Mengajari Anak Lelaki Memasak

Seringkali saya mendapatkan pernyataan “satu lagi atuh, anak perempuan biar ada yang bantuin ummi di rumah” ketika melihat anak kami dua-duanya laki-laki. Hmm. Saya hanya balas dengan senyuman dan berterima kasih atas doanya. Alhamdulillah ternyata dikabulkan Allah dengan lahirnya Hasna.

Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan mereka. Sebab adanya anak, baik lelaki maupun perempuan bukan semata urusan “biar ada yang bantu” tapi jauh lebih dari itu. Dan bagi saya, anak lelaki maupun perempuan keduanya mesti memiliki porsi dan hak yang sama untuk belajar melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kok gitu sih Teh? Iya, sebab pekerjaan rumah tangga pada dasarnya adalah kebutuhan dasar life skill. Kita tak pernah tahu masa depan. Siapa tahu anak kita suka berkelana keliling dunia ala backpacker, travelling keliling Indonesia dan menikmati berbagai makanan paling enak di dunia, kuliah di luar negeri dsb. Tapi ia pasti tetap butuh kemampuan memasak (salah satunya) di awal-awal perjalanannya. Ia mesti bisa membersihkan kamar kosnya, memberikan bantuan untuk lingkungannya saat dibutuhkan, dst.

Tips Mengajari Anak Memasak

Jika anda sepakat dengan saya dan memutuskan untuk mengajari anak life skill dan diantaranya adalah memasak, yuk simak tips berikut yang merupakan ringkasan pengalaman saya mengajari Danisy (7 tahun) memasak.

1.       Niat yang kuat dan lurus murni (PPA banget ya. Hihi)

Dimulai dengan meluruskan niat. Mengajari anak memasak bukan semata biar dipuji orang, tapi agar anak memiliki life skill yang insyaallah bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Niatkan untuk mencontoh bagaimana Rasulullah menyiapkan kebutuhannya sendiri (dengan begini kan kita jadinya sedang melaksanakan sunnah alias meniru apa yang dilakukan Nabi).

Kuatkan niat kita agar saat ada halangan dan ujian di perjalanan anak belajar memasak, kita lebih bisa menghadapinya. Murnikan niat karena Allah semata agar dicatat sebagai ibadah, bagian tindakan dalam mengimplementasikan salah satu ayat: “tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu”.

2.       Telaten

Namanya belajar, butuh ketelatenan untuk terus mencoba sampai bisa. Jangan pernah capek mendampingi anak belajar masak. Kalau kata pribahasa: “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

3.       Temani dan Contohkan Anak

Damping anak selama proses belajar masak agar ia memiliki bekal keilmuan dasar yang cukup dalam memasak. Beri contoh bagaimana memasukkan masakan ke dalam wajan, mengaduk masakan, memberi bumbu, mengocok telur, membalik telur dadar, dsb.

4.       Tega dan Sabar Membiarkan Dia Eksplorasi

Gaya dan cara memasak anak bisa jadi tidak akan sama dengan kita. Biarkan saja. Yang penting selama proses memasak, keamanan diperhatikan dan nanti output hasil memasaknya cukup baik (setidaknya untuk dia makan sendiri).

Nanti dia akan belajar bagaimana supaya telur ga gosong, bagaimana supaya garam tercampur rata, bagaimana supaya tidak terkena cipratan minyak panas, dan masih banyak lagi pelajaran dari praktek yang akan mereka dapatkan. Sabar saja bu 😊

5.       Sering-sering Berikan Ia Kesempatan Memasak

Jangan pengen hasil instan. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, jangan ingin langsung anak mahir memasak. Sering-sering berikan kesempatan untuk memasak jika ia meminta.

Ga usah panik karena anak terkena cipratan minyak, ga usah khawatir karena masakannya gosong, ga usah khawatir berlebihan ya bu. Insyaallah anak itu pembelajar yang hebat.

Pernah satu ketika anak saya memasak telur dan gosong pinggirnya. Tapi tetap menjadi makanan paling enak di dunia baginya saat itu karena ummi ga bisa masakin sedang ia tengah kelaparan. Gapapa bu, ga usah merasa kasihan. Dari situ dia akan belajar.

Jadi, siap mengajari anak memasak? 5 tips sederhana yang saya tuliskan insyaallah mudah dilaksanakan. Tinggal kesungguhannya aja untuk praktek. Hehehe.

Selamat menemani Ananda terus bereksplorasi..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *