Ummi, Dede Bantu Ya..

Ummi, dede bantu ummi ya..

Kalimat seperti itu seringkali muncul beberapa waktu ke belakang. Kadang terbantu, kadang dilema dan sesekali deg-degan juga. Kok bisa? Karena Azam (4 tahun) ingin bantu hampir banyak hal tak peduli kondisi saat itu apakah lagi buru-buru, dia mampu atau tidak, atau hal serupa.

Apresiasi tetep kudu diberikan supaya keinginan anak untuk membantu selalu terjaga. Tapi penjelasan saat tidak memungkinkan dia membantu, bisa menjadi tambahan informasi bagi anak. Mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Termasuk mengukur kemampuan tanpa merendahkan (agar kelak anak tidak terbiasa menjadikan kelemahannya untuk tidak bergerak ambil andil membantu).

Saya pribadi mencoba selalu minta izin pada anak-anak saat hendak membantu mereka di kala melihat “kayaknya dia butuh dibantu deh“. Lho masa minta izin? Iya, sebab nyatanya memang ga semua orang senang atau butuh dibantu.

Dan dalam hal upaya anak menyelesaikan suatu hal, ada kepercayaan yang harus kita jaga. Percaya padanya saat dia merasa dirinya mampu, percaya bahwa ia mampu mengukur kemampuannya (ketika udah mentok, kemungkinan besar mereka akan minta tolong), membuat mereka yakin bahwa kita percaya sehingga terjaga rasa percaya dirinya, fitrah berani mencoba dan berusaha maksimal – sekuat tenaga.

Meminta izin saat akan membantu mereka juga jadi contoh nyata bagaimana sebaiknya bertindak saat ada seseorang nampak butuh bantuan. Bukankah tidak sedikit perselisihan terjadi karena salah persepsi? Si A niatnya bantu, si B yang dibantu malah merasa A ini ganggu, atau semacamnya.

Membiasakan mereka untuk tidak mudah minta bantuan tapi sekaligus berani meminta bantuan kala dibutuhkan menjadi salah satu poin penting yang coba kami perkenalkan. Tidak sombong (beranggapan ga butuh orang lain, bisa ngerjain sendiri) tapi tidak jiper dan minder (sehingga ga percaya pada kemampuan diri dan terus-terusan minta bantuan orang lain).

Sebagai orang tua, wajar kok ingin membantu anak. Yang ga wajar saat anak dibantu di semua aspek kehidupannya. Anak tidak bebas dan mandiri, orang tuanya juga terus menerus khawatir.

Nah, terkait anak ingin membantu, sejauh ini mereka selalu bertanya terlebih dahulu “Aa/dede mau bantu ummi ya”. Jawabannya tentu saja tidak selalu ‘iya’. Apapun jawabannya, selalu ada potensi “ujian” disana 😁

Ketika jawaban kita “iya” mengizinkan anak membantu, maka kita harus sabar bahwa bantuannya kadang ga sempurna, sesekali butuh waktu yang lebih lama, butuh diajari, dsb. Ya, tapi karena anak-anak kami keduanya Sensing, pengalaman langsung semacam itu akan sangat berharga. Termasuk untuk anak dengan mesin kecerdasan lainnya juga tentu akan sangat senang dengan ‘praktek lapangan‘ 😅

Ketika jawaban kita “tidak” maka pandai-pandailah merangkai kata. Agar maksud ucapan tersampaikan, tapi tidak menyurutkan semangatnya. Perlu dicatat: pandai merangkai kata bukan berarti berbohong ya bu. Tapi lebih pada mengatur kalimat agar sesuai dan tepat sasaran.

Ga boleh ada kebohongan meski dalam bercanda sekalipun, itu aturan di rumah kami sebagaimana dianjurkan dan dicontohkan Rasulullah. Maka kepandaian ayah ibu memilih kata inilah yang mencerminkan kecerdasan komunikasi kita dan insyaallah dicontoh anak 😍

Fitrah anak untuk membantu perlu dijaga agar saat baligh nanti, ia lebih mudah berbakti pada kedua orang tuanya. Terbiasa belajar mandiri dan paham terhadap berbagai pekerjaan rumah sehingga jika saatnya nanti ia jauh dari rumah, kemampuan mengurus kebutuhan diri semakin terasah.

Dan “efek” terdekat yang dapat kita rasakan: saat kita repot atau sakit, tiba-tiba takjub karena dia bisa ambil nasi dan lauk sendiri saat lapar, masak sendiri, melanjutkan masak saat di tengah jalan kita butuh bantuan, atau sekadar on-off-kan mesin air, bantu masak nasi karena sudah hafal takaran, urusin cucian di mesin cuci karena mengerti langkah demi langkah pekerjaan harian, dsb. Tak jarang, ia berusaha maksimal ngangkut jemuran yang sebetulnya bukan dia ga kuat ngangkat, tapi karena jemurannya kegedean jadi rada kewalahan. Biarin aja. Namanya juga belajar. 

Terlalu sering melarang anak membantu pekerjaan kita, bisa jadi penyebab anak merasa tidak percaya diri dan tidak dipercaya oleh orang terdekat dan tersayangnya: orang tua. Kadang alasan kita karena repot, atau men-judge anak ga becus ngerjain, kasihan kalo bantu nanti anak capek, dan hal serupa lainnya yang andai kita mau bersabar dengan proses itu, sebenarnya akan menghasilkan buah yang enak.

Ketika anak tidak pernah diizinkan membantu kita di masa tumbuh kembangnya, jangan heran di kala ia besar nanti tidak mau membantu orang tua. Ya karena kita yang membentuknya selama bertahun-tahun. Kalau sudah begini, jangan labeli anak dengan malas, durhaka atau semacamnya ya. Kan bukan sepenuhnya salah anak juga 🙂

Maka, berilah kesempatan anak mencoba bantu pekerjaan kita kala memungkinkan. Namun ketika tidak memungkinkan, beri pengertian sebaik mungkin agar ia paham dan tidak terlampau kecewa. Anak sudah bisa diajak ngobrol dan komunikasi sejak kecil kok. Insyaallah mereka paham meski pemahamannya mungkin belum sempurna.

Selamat bekerja sama antar-anggota keluarga. Hayu kita sama-sama belajar 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *